KALIMAT EFEKTIF
Pengertian Kalimat Efektif
Dalam buku “Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi”, E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai menyebutkan bahwa, kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Ketidakefektifan kalimat dapat membuat pesan yang disampaikan pembicara atau penulis tereduksi, sehingga akan beda maknanya saat ditangkap oleh pendengar atau pembicara.
Unsur-Unsur kalimat Efektif
Sebuah kalimat dinyatakan efektif bila mengandung beberapa ciri khas, yaitukesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.
1. Kesepadanan
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Ciri-ciri kesepadanan ini meliputi:
a. Kalimat tersebut memiliki subjek dan predikat dengan jelas. Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan menghindarkan penggunaan kata di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya.
Contoh:
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (salah).
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (benar).
b. Tidak terdapat subjek ganda.
Pengertian Kalimat Efektif
Dalam buku “Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi”, E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai menyebutkan bahwa, kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Ketidakefektifan kalimat dapat membuat pesan yang disampaikan pembicara atau penulis tereduksi, sehingga akan beda maknanya saat ditangkap oleh pendengar atau pembicara.
Unsur-Unsur kalimat Efektif
Sebuah kalimat dinyatakan efektif bila mengandung beberapa ciri khas, yaitukesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.
1. Kesepadanan
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Ciri-ciri kesepadanan ini meliputi:
a. Kalimat tersebut memiliki subjek dan predikat dengan jelas. Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan menghindarkan penggunaan kata di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya.
Contoh:
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (salah).
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (benar).
b. Tidak terdapat subjek ganda.
Contoh:
Soal itu saya kurang jelas (salah).
Soal itu bagi saya kurang jelas (benar).
c. Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Soal itu saya kurang jelas (salah).
Soal itu bagi saya kurang jelas (benar).
c. Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
Kami datang agak terlambat. Sehingga tidak dapat mengikuti acara pertama (salah).
Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama (benar).
Atau,
Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama (benar).
d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Kami datang agak terlambat. Sehingga tidak dapat mengikuti acara pertama (salah).
Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama (benar).
Atau,
Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama (benar).
d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu (salah).
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu (benar).
2. Keparalelan
Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, jika bentuk pertama menggunakan nomina, maka bentuk kedua dan selanjutnya juga menggunakan nomina. Begitu pun dengan verba.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes (salah).
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes (benar).
3. Ketegasan
Ketegasan atau penekanan adalah suatu perlakukan menonjol pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Ada beberapa cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat, yaitu:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat.
Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu (salah).
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu (benar).
2. Keparalelan
Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, jika bentuk pertama menggunakan nomina, maka bentuk kedua dan selanjutnya juga menggunakan nomina. Begitu pun dengan verba.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes (salah).
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes (benar).
3. Ketegasan
Ketegasan atau penekanan adalah suatu perlakukan menonjol pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Ada beberapa cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat, yaitu:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat.
Contoh:
Harapan Presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya: harapan Presiden.
b. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (salah).
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (benar).
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan mujur.
e. Menggunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang harus bertanggung jawab.
4. Kehematan
Kehematan adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Ada beberapa kriteria penghematan, yaitu:
a. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu (tidak hemat).
Karena tidak diundang, ia tidak datang ke tempat itu (hemat).
b. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh:
Ia memakai baju warna merah (tidak hemat).
Ia memakai baju merah (hemat).
c. Penghematan kata dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh:
Sejak dari pagi dia bermenung (tidak hemat).
Sejak pagi dia bermenung (hemat).
d. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
Para tamu-tamu datang dari Jakarta kemarin (tidak hemat).
Para tamu datang dari Jakarta kemarin (hemat).
5. Kecermatan
Kecermatan adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsir ganda, dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah (salah).
Mahasiswa perguruan tinggi terkenal itu menerima hadiah (benar).
6. Kepaduan
Yang dimaksud kepaduan di sini ialah kepaduan pernyataan dalam suatu kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Karena itu, hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
Makalah ini membahas tentang desain interior pada rumah adat (tidak padu).
Makalah ini membahas desain interior pada rumah adat (padu).
Harapan Presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya: harapan Presiden.
b. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (salah).
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (benar).
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan mujur.
e. Menggunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang harus bertanggung jawab.
4. Kehematan
Kehematan adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Ada beberapa kriteria penghematan, yaitu:
a. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu (tidak hemat).
Karena tidak diundang, ia tidak datang ke tempat itu (hemat).
b. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh:
Ia memakai baju warna merah (tidak hemat).
Ia memakai baju merah (hemat).
c. Penghematan kata dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh:
Sejak dari pagi dia bermenung (tidak hemat).
Sejak pagi dia bermenung (hemat).
d. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
Para tamu-tamu datang dari Jakarta kemarin (tidak hemat).
Para tamu datang dari Jakarta kemarin (hemat).
5. Kecermatan
Kecermatan adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsir ganda, dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah (salah).
Mahasiswa perguruan tinggi terkenal itu menerima hadiah (benar).
6. Kepaduan
Yang dimaksud kepaduan di sini ialah kepaduan pernyataan dalam suatu kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Karena itu, hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
Makalah ini membahas tentang desain interior pada rumah adat (tidak padu).
Makalah ini membahas desain interior pada rumah adat (padu).
Kesalahan-kesalahan yang sering di temukan dalam penggunaan
bahasa Indonesia sehari-hari.
A: Bro, besok kita nongkrong yuk.
B: Ogah ah, males gue.
A: Ah, dasar antsos lo..
B: Heh, gue cuma asosial, bukan
psikopat!
A: Hee?
Saya yakin banget, banyak dari
kalian yang bingung dengan dialog di atas. Kalau bingung, itu berarti
selama ini kalian biasa menggunakan istilah "antsos" untuk melabeli
orang yang sedang malas atau menarik diri dari lingkungan sosialnya. Padahal,
penggunaan istilah itu keliru, lho. Ini adalah contoh salah kaprah dalam
berbahasa Indonesia!
Itu baru satu.
Masih buanyak lagi contoh salah kaprah penggunaan bahasa Indonesia
yang tanpa disadari sering kita lakukan sehari-hari. Apalagi, di era informasi
dan media sosial saat ini, kreasi kata baru serta serapan bahasa daerah
dan bahasa asing makin banyak mengakomodasi kebutuhan komunikasi generasi melek
internet. Di sisi lain, dengan banjir informasi, apakah sebagai
generasi melek internet, kalian juga peduli untuk sekadar
cek-ricek kesesuaian kata-kata dengan makna yang digunakan sehari-hari?
Atau cuma asal nyeletuk yang penting lawan bicara paham?
Kali ini, saya akan mengupas lebih
lanjut salah kaprah dalam berbahasa Indonesia tercinta ini. Kenapa bisa
ada banyak salah kaprah berbahasa di masyarakat? Saya juga akan mengajak kamu
mengecek contoh-contoh salah kaprah bahasa yang umum digunakan masyarakat. Jika
dari kalian ada yang tahu contoh salah kaprah berbahasa dan selama
ini gatel ingin dikoreksi, yuk sama-sama berbagi melengkapi artikel
ini.Untung-untung bisa membantu perbendaharaan kata saat mengerjakan soal
TPA Verbal di SBMPTN nanti
Kenapa Ada Salah Kaprah dalam
Berbahasa?
Meskipun ditetapkan sebagai bahasa
nasional, bahasa Indonesia tidak serta merta jadi bahasa ibu bagi masyarakatnya.
Tidak sedikit orang yang dibesarkan dari keluarga yang dominan menggunakan
bahasa daerah. Namun demikian, mereka paham Bahasa Indonesia meskipun tidak
mesti belajar secara formal terlebih dulu seperti pembelajaran bahasa Inggris
di kursus-kursus. Bisa dibilang, yang mempelajari secara baik itu hanya orang
asing dan guru bahasa saja.
Ternyata, ini punya efek yang jelek
ke penggunaan Bahasa Indonesia itu sendiri. Kita jadi sering abai saat
berbahasa Indonesia karena merasa sudah bisa (dan biasa) menggunakannya. Kita
suka malas buka kamus saat menemukan kata yang artinya belum diketahui
atau diketahui tapi berdasarkan dugaan semata. Ini baru buta makna kata, belum
buta tata bahasa dan tetek bengek lainnya. Akhirnya, kebutaan ini telanjur menjadi
kebiasaan padahal salah kaprah. Tidak hanya di level individu saja, di
institusi pemerintah hingga dunia jurnalistik yang seharusnya sangat
memperhatikan penggunaan bahasa, salah kaprah banyak terjadi.
Salah Paham atau Salah Kaprah?
Ajip Rosidi, seorang bahasawan dan
juga sastrawan tersohor, pernah mengemukakan salah kaprah dalam berbahasa
Indonesia. Baginya, salah kaprah itu berbeda dengan salah paham (salah
kaprahsering digunakan untuk maksud salah paham). Salah kaprah berarti
sebuah kesalahan atau kekeliruan yang digunakan secara luas dan masal sehingga
dianggap kaprah (biasa;lumrah) atau dianggap kelaziman.
Contohnya ya kata antsos atau
antisosial pada dialog di atas.
Antisosial
Berarti perilaku yang melawan masyarakat atau lingkungan di sekitar kita, seperti merisak (bully), membunuh, merampok, perilaku licik. Anti-: bentuk terikat (jadi harus digabung dengan kata berikutnya) berarti melawan; menentang; memusuhi. Berdasarkan definisi ini, antisosial juga berarti bentuk gangguan kepribadian dan berkaitan dengan psikopat. Nah, lho…
Berarti perilaku yang melawan masyarakat atau lingkungan di sekitar kita, seperti merisak (bully), membunuh, merampok, perilaku licik. Anti-: bentuk terikat (jadi harus digabung dengan kata berikutnya) berarti melawan; menentang; memusuhi. Berdasarkan definisi ini, antisosial juga berarti bentuk gangguan kepribadian dan berkaitan dengan psikopat. Nah, lho…
Jadi, masih yakin akan pakai istilah
ini untuk kegiatan menarik diri dari kehidupan sosial atau sekadar berdiam
diri? Lebih baik pakai kata asosial.
Asosial
Dipungut dari bahasa Belanda (asociaal). Pada prinsipnya, kata ini lawan dari kata sosial. Perannya, menegasikan kata berikutnya: sosial. Ini mirip dengan kata amoral, yang berarti tidak bermoral; tidak berakhlak. Jadi bisa dibilang asosial berarti tidak bersifat sosial; tidak memedulikan kepentingan masyarakat.
Dipungut dari bahasa Belanda (asociaal). Pada prinsipnya, kata ini lawan dari kata sosial. Perannya, menegasikan kata berikutnya: sosial. Ini mirip dengan kata amoral, yang berarti tidak bermoral; tidak berakhlak. Jadi bisa dibilang asosial berarti tidak bersifat sosial; tidak memedulikan kepentingan masyarakat.
Selain satu contoh ini, saya
akan coba kupas lebih lanjut 10 salah kaprah lain dalam menggunakan Bahasa
Indonesia itu. Oke deh langsung aja.
10 Contoh Salah Kaprah dalam
Berbahasa Indonesia di Kehidupan Sehari-hari
1. Tegar
Semoga keluarga yang ditinggalkan
dalam musibah ini menjadi tegar.
Pada awalnya (cek Kamus Umum Bahasa
Indonesia, karya W.J.S Purwadarminta), kata tegar berarti keras kepala, kepala
batu dan ngeyel. Namun, entah sejak kapan kata ini bertambah makna (jadi dua
makna) yaitu tabah; kuat; sabar. Padahal makna kedua ini bertolak belakang
dengan yang pertama. Entah kenapa pula dalam keseharian makna yang lebih
sering beredar makna yang kedua seperti pada kalimat contoh di atas.
2. Ubah vs rubah
Aku Mau (Once)
Kau boleh acuhkan diriku
dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku
Kepadamu
dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku
Kepadamu
Apa yang janggal dari lirik salah
satu lagu yang pernah hits di radio ini? Ada apa dengan kata ubah?
Ya, dalam bahasa formal atau
informal, seringkali kata ini dieja dengan kata rubah atau merubah. Ketika kata
ini diberi imbuhan me-, kata yang terbentuk adalah mengubah
(me+ubah=meng+ubah) dan bukan merubah. Merubah bisa saja
berarti menjadi (seperti binatang) rubah. Gue menduga ini disebabkan karena
salah paham saat penutur mengubah kata berubah atau perubahan menjadi
bentuk melakukan atau membuat sesuatu jadi bentuk yang sama sekali berbeda dari
sebelumnya. Dalam pengamatan gue, kesalahan ini acap dilakukan oleh para orang
tua kita.
3. Absensi vs presensi
Absensi Kehadiran Peserta Seminar
Pembangunan Infrastruktur Indonesia
Apa yang keliru dari tulisan itu?
Ya, betul. Yang keliru adalah penggunaan absensi yang disertai
dengan kata kehadiran. Absen dipungut dari bahasa Belanda (absent),
berarti tidak hadir atau tidak masuk. Jadi, kalau absensi
digabung dengan kehadiran maka akan jadi arti yang beza,
kalau kata orang Malaysia, dan bertentangan. Lebih baik tulisan absensinya
dihilangkan.
Namun begitu, penggunaan kata mengabsen (pemanggilan
daftar hadir agar tahu mana yang hadir dan tidak) atau absensi (daftar
ketidakhadiran) sah-sah saja digunakan.
Sinonim presensi: hadir, masuk
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir
4. Acuh
Gelandang Manchester United Nani
mulai menunjukkan sikap acuh terhadap klubnya. Pemain internasional Portugal
tersebut terlihat tidak perduli saat klubnya Kamis dinihari tadi melakoni
pertandingan "hidup dan mati".
Kata "acuh" merupakan kata
paling sering disalahartikan. Bagi sebagian penutur, acuh itu berarti cuek dan
tidak perhatian. Padahal menurut kamus, acuh itu berarti peduli; hirau; ingat; indah;
hisab. Jadi kalau kalimat: dia sudah mengacuhkanku lagi berarti
dia sudah memedulikan dirinya lagi. Lalu bagaimana dengan frasa acuh
tak acuh? Ya, berarti itu berarti peduli-tidak peduli atau terkadang
perhatian dan terkadang tidak.
5. Geming
Di saat ia menembak gue, tubuh gue
jadi grogi, diam tak bergeming.
Selain acuh, kata geming termasuk
yang sering salah tempat. Coba bayangkan, kata yang berarti diam dan tak
bergerak ini dijadikan ke dalam kalimat di atas. Jadi, apa coba
artinya? Diam tak diam? Padahal maksudnya itu kan diam dan tak bergerak.
Hal serupa juga ditemukan dalam tautan (link) berita berikut.
Si wartawan tentu ingin menyampaikan
bahwa politikus Partai Amanat Nasional ini diam (tenang-tenang saja) saat isu
jabatan rangkap ini bergulir ke publik.
6. Nuansa vs suasana (sanskerta:
suasana)
Penggunaan kata nuansa dalam
lirik lagu yang pernah dipopulerkan oleh Vidi Aldiano ini termasuk yang benar
ya. Nuansa diserap dari bahasa Belanda (nuance) dan
berarti variasi, derajat atau perbedaan yang sangat halus/kecil sekali.
Konteksnya seperti warna, suara, kualitas dan makna kata. Atau pemisalan lain:
terdapat nuansa makna yang berbeda antara kata murah dan murahan.
Namun demikian, kita masih mendengar
kata ini digunakan maksud yang sama dari kata suasana. Contoh
konkret penggunaan salah kaprah ini adaah pada berita berikut.
Kalau aja si wartawan mau cek kamus,
dia bakal menemukan kalo "Suasana menyeramkan"
lebih pas digunakan daripada "Nuansa menyeramkan".
7. Ke luar vs keluar
Menurut elo mana yang tepat:
Sandra akan pergi ke luar negeri
atau
Sandra akan pergi keluar negeri?
atau
Sandra akan pergi keluar negeri?
Walaupun dua kata ini ditulis
berbeda, namun saat diucapkan, kedengarannya sama aja. Sebetulnya, dua kata ini
sangat beda. Ke luar merupakan bentuk preposisi,
sama seperti ke dalam, ke mana, ke sana, di atas, di mana dll.
Kalau kita contohkan dengan: Sandra akan pergi ke luar negeri.
Sebut saja ia akan ke Singapura. Artinya, Sandra akan pergi ke luar dari negeri
Indonesia menuju Singapura.
Sedangkan keluar dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai kata kerja (verba) dan bermakna
’bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar’. Coba kita cari apa lawan dari
kata keluar? Iya, jawabannya adalah masuk. Contoh lain kata keluar: Ia
dikeluarkan dari sekolahnya karena didapati mengonsumsi narkoba di kelas atau Shanti
mengeluarkan beberapa uang receh setelah pengamen itu menyanyi.
Kedua contoh ini mencerminkan makna
memindahkan sesuatu dari dalam (dari dalam sekolah dan dari dalam saku). Nah,
sesuai dong kalau lawannya adalah masuk?
8. Pasca vs paska
Akhir-akhir ini para pembawa berita
di televisi sering membubuhkan kata pasca untuk mengganti kata
sesudah atau setelah. Mungkin kata itu terdengar lebih keren dibandingkan dua
kata padanannya. Hal itu sah-sah saja. Tapi masalahnya banyak yang menulis atau
membaca kata ini dengan ejaan paska. Kesalahan lain adalah
memisahkan penulisan pasca dengan kata apa pun yang melekat
setelah kata itu. Misalnya, pasca bayar, pasca SBY atau pasca
tsunami.
Lalu, bagaimana dengan contoh yang
gue berikan di atas? Salahnya ganda, euy. Hehehe
Pasca merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta dan dalam
penulisannya mesti digabung karena termasuk bentuk terikat. Ada juga penulisan
yang menggunakan tanda strip (-) seperti pasca-SBY,
maksudnya setelah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; pasca-SBMPTN,
setelah ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Selain itu,
bedakan penulisan pascatsunami denganpasca-Tsunami Aceh. Pascatsunami, penulisannya
dirangkai karena tsunami yang dibahas merupakan kejadian alam yang umum
sedangkan pasca-Tsunami Aceh lebih khusus.
9. Garang vs gahar
Maksud hati ingin memberikan nilai
garang, seram, keras atau laki banget, hal yang terucap malah
kata gahar. Gue ga tahu apa musabab kata ini dipadankan dengan empat kata
sebelumnya. Pas gue cek juga di KBBI, arti kata gahar jauh banget dari
contoh di atas: menggosok secara kuat. Tapi kalo menurut Kamus Slang
Indonesia (www.kamusslang.com), kata
gahar baru senada dengan empat contoh di atas. Ini berarti, kata gahar belum
diakui sebagai kata resmi dan bersifat informal, hanya digunakan waktu
percakapan santai saja.
Kata yang berasal dari bahasa Jawa
ini, bukan tidak mungkin mengalami nasib yang sama dengan tegar(memiliki
dua makna padahal awalnya cuma satu), akhirnya bermakna dua dan
saling tidak berkaitan satu sama lainnya. Cuma, sayang kan, kalau
memang artinya berbeda dan itu berawal dari kekeliruan tapi dimaklumkan lalu
“direstui” masuk kamus besar.
10. Nol tau kosong?
Tanya : Mba, saya mau pesan
taksi..
Jawab : Oh, baik. Berapa nomor
teleponnya pak?
Tanya : nol delapan satu tiga…
Jawab : kosong delapan satu
tiga…
Tanya: mba, nol. Bukan kosong…
Sebagian dari kita sering menemukan
“perlakuan” seperti itu. Ya, ini terjadi karena ada yang menyamakan peran
angka nol (0) yang diambil dari bahasa Belanda (nul),
dengan kata kosong. Dalam penjelasan Tesaurus Bahasa Indonesia,
padanan untuk nol itu kosong, namun hanya diberi label cak (cakapan alias tidak
resmi; informal). Sementara makna kedua adalah hampa; nihil dan keduanya
merupakan kata sifat. Padahal kata nol pada contoh di atas merupakan kata
bilangan, bukan kata sifat.
Kalau ada yang masih ingat iklan
layanan internet oleh Telkom dan sering diputar pada televisI swasta pada awal
millennium ini: Telkom-net Instan 080989999, mungkin ada yang berprasangka hal
ini yang memperkuat penggunaan nol menjadi kosong menjadi kaprah.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar