30 Sep 2015

PENGERTIAN DAN MACAM-MACAM KALIMAT



PENGERTIAN DAN MACAM-MACAM KALIMAT 

       Kalimat secara luas dapat diartikan sebagai gabungan dari dua kata atau lebih yang memiliki arti dan pola inotasi akhir. Yang dimaksud pola intonasi adalah pola yang dimiliki suatu kalimat yang dibentuk oleh unsur-unsur kalimat. Kalimat terdiri dari beberapa unsur seperti subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Dengan memperhatikan unsur-unsur kalimat kita bisa membedakan apakah kalimat tersebut kalimat lengkap atau tidak lengkap dan apakah kalimat tersebut kalimat aktif atau kalimat pasif.


UNSUR-UNSUR KALIMAT  

1. SUBJEK
  • merupakan unsur inti kalimat
  • umumnya adalah kata benda atau kata lain yang dibendakan
  • jawaban dari pertanyaan "apa" atau "siapa"
  • biasanya berupa orang atau kata benda yang melakukan pekerjaan
  • contoh: Andri adalah seorang pemain basket
2. PREDIKAT
  • berfungsi menjelaskan subjek
  • umumnya berupa kata kerja atau kata sifat
  • jawaban dari pertanyaan "mengapa" atau "bagaimana"
  • contoh: Andri bermain dengan baik
3. OBJEK
  • terletak dibelakang predikat dan punya hubungan erat dengan predikat
  • dalam kalimat pasif, objek akan menempati posisi subjek
  • ada 2 jenis objek, objek penderita(sasaran dari perbuatan subjek) dan objek penyerta(menyertai subjek dalam melakukan atau mengalami sesuatu)
          contoh:   -objek penderita  : Andri memasukkan bola
                        -objek penyerta   : Andri memberikan orangtuanya hadiah

3.KETERANGAN
  • posisinya dapat di awal, tengah atau akhir kalimat
  • terdiri dari keterangan tempat, alat, waktu, tujuan, cara, penyerta, similatif dan sebab
           contoh:    -tempat    :Andri bertanding basket di Rawamangun          
                          -alat         :Andri memukul temannya dengan panci
                          -waktu     : Andri bertanding basket pada sore hari
                          -tujuan      : Andri rajin berlatih agar menang
                          -cara        : Andri memperhatikan pelatihnya dengan seksama
                          -penyerta  : Andri berlatih bersama Indra
                          -similiatif   : Andri memberikan pengarahan kepada rekan timnya sebagai kapten
                          - sebab     : Andri memenangkan pertandingan karena giat berlatih

4. PELENGKAP
  • terletrak dibelakang predikat
  • jika berada dalam kalimat pasif, pelengkap tidak menjadi subjek. jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, maka objeklah yang menjadi subjek dalam kalimat pasif
  • contoh: Andri menghadiahkan orangtuanya rumah mewah

MACAM-MACAM KALIMAT

1. KALIMAT LENGKAP
  • minimal memiliki subjek dan predikat
  • majas merupakan kalimat lengkap
          contoh:     Andri( S ) membeli( P ) bola basket( O )  
                          Andri( S ) pergi( P )

2. KALIMAT TIDAK LENGKAP
  • kalimat yang hanya memiliki subjek saja, predikat saja, objek saja atau keterangan saja
  • berupa semboyan, salam, ajakan, perintah pertanyaan, jawaban, seruan, larangan, sapaan dan kekaguman
          contoh:      selamat sore!
                           kapan bertanding?
                           
3. KALIMAT AKTIF
  • subjeknya melakukan pekerjaan atau aktifitas
  • predikat diawali me- atau ber-
  • ada 2 jenis kalimat aktif, transitif (memiliki objek) dan intransitif (tidak memiliki objek)
          contoh:     -transitif:    Andri membeli bola
                          -intransitif:  Andri berkelahi

4. KALIMAT PASIF
  • subjek dikenakan pekerjaan atau aktifitas
  • diawali awalan di- atau ter-
          contoh:     bola basket itu dimasukkan oleh Andri 


1. Berdasarkan Nilai informasinya (sasaran atau tujuan yang akan di capai)

a. Kalimat berita 

Kalimat berita adalah suatu bentuk kalimat yang menyatakan suatu pernyataan berita atau peristiwa yang perlu diketahui sendiri atau orang lain.
Contoh : 
  • Pemerintah menunda kenaikan harga BBM.
  • Kenaikan harga BBM diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan pokok.
  • Demo kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh mahasiswa di beberapa daerah mengakibatkan kerusakan beberapa fasilitas umum.

b. Kalimat Tanya 

Kalimat Tanya adalah suatu bentuk susunan kalimat yang sebenarnya belum lengkap dikarenakan kalimat tersebut memerlukan suatu jawaban sebagai bagian dari kalimat yang dimaksud.
Contoh :
  • Kapan akan dilaksanakan pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017?
  • Siapakah pemenang Indonesian Idol tahun 2012?
  • Apakah perbedaan pertamax dengan premium?

c. Kalimat perintah

Kalimat perintah adalah bentuk susunan kalimat yang menyatakan perintah atau suruhan yang harus dikerjakan oleh orang kedua dan hubungannya erat sekali.
  1. Suruhan
  2. Contoh : Buanglah sampah pada tempatnya.
  3. Permintaan
  4. Contoh : Mohon untuk dating langsung ke kantor Sriwijaya Air untuk melakukan penambahan biaya perubhan jadal penerbangan.
  5. Larangan 
  6. Contoh: Jangan makan sambil berjalan.

d. Kalimat ajakan

Kalimat ajakan adalah bentuk susunan kalimat yang sebenarnya juga merupakan kalimat perintah yang diperluas dan erat hubungannya dengan orang kedua.
Contoh:
  • Mari kita cegah bahaya penggunaan rokok bagi perokok pasif maupun aktif.
  • Ayo kita laksanakan program kebersihan lingkungan di desa ini.

e. Kalimat pengandaian

Kalimat pengandaian adalah kalimat yang isinya pengandaian suatu hal.
Contoh : Andaikan saya memiliki banyak uang, saya ingin megajak Ibu saya naik haji.

f. Kalimat harapan

Kalimat harapan adalah kalimat yang isinya mengharap suatu hal. Contoh : Semoga amal perbuatan beliau diterima disisi–Nya.

2. Berdasarkan diathesis kalimat

a. Kalimat aktif (subyek melakukan perbuatan) Kalimat aktif adalah bentuk kalimat yang subyeknya melakukan pekerjaan yang mengenai langsung terhadap obyeknya.
Ciri-ciri :
  1. Subjeknya sebagai pelaku.
  2. Helsa Situmorang membaca buku. (Helsa sebagai pelaku)
  3. Predikatnya berawalan me- atau ber-.
  4. Predikatnya tergolong kata kerja aus.
Contoh :
  • Adik membaca buku.
  • Tatang bermain bola.
  • Yuli mandi di kolam renang.
  • Wawan telah membeli buku gambar.
b. Kalimat pasif
Kalimat pasif adalah suatu bentuk kalimat yang mana subyeknya dari klimat tersebut menderita.
Ciri-ciri :
  1. Subjeknya sebagai penderita.
  2. Predikatnya berawalan di-, ter-, atau ,ter-kan.
  3. Predikatnya berupa predikat persona (kata ganti orang, disusul oleh kata kerja yang kehilangan awalan).

3. Berdasarkan urutan kata

a. Kalimat normal

Kalimat normal adalah kalimat yang subyeknya mendahului predikat.

b. Kalimat inverse 

Kalimat inverse adalah kalimat yang prediakatnya mendahului obyek.

4. Berdasarkan jumlah inti yang menbentuknya

a. Kalimat minor

Kalimat minor ialah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.  Contoh : Diam!

b. Kalimat mayor

Kalimat mayor ialah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.  Contoh : Ria pergi kedapur , Tia belajar di kamar

5. Berdasarkan pola-pola dasar

a. Kalimat inti 

Kalimat inti ialah kalimat yang memiliki ciri terdiri dari dua kata, berpola S-P, dan intonasinya netral.

b. Kalimat luas

Kalimat luas ialah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata.

c. Kalimat transformasi

Kalimat transformasi ialah kalimat inti yang sudah mengalami perubahan baik berupa penambahan kata maupun perbanyakan unsur inti.
Ciri-ciri kalimat transformasi :
  1. Hanya terdiri dari dua kata
  2. Dua kata ini sekaligus menjadi inti kalimat (kata pertama menduduki jabatan predikat).
  3. Urutannya adalah subyek mendahului predikat
  4. Informasinya adalah intonasi berit yang netral

6. Berdasarkan jumlah kontur yang terdapat di dalamnya

Berdasarkan jumlah kontur yang terdapat di dalamnya, kalimat dibedakan atas:
  1. Kalimat minim (hanya mengandung satu kontur)
  2. Kalimat panjang (mengandung lebih dari satu kontur)
Kontur adalah bagian arus ujaran yang diapit oleh dua kesenyapan. Contoh:
  • # Pergi! #
  • # Berita daerah membangun # disiarkan TVRI # setiap hari #
Kalimat (i) adalah kalimat minim, sedangkan kalimat (ii) adalah kalimat panjang.

7. Berdasarkan jumlah klausa yang terkandung di dalamnya

Berdasarkan jumlah klausa yang terkandung di dalamnya, kalimat dibedakan atas:

a. Kalimat tunggal

Kalimat tinggal adalah kalimat yang hanya mengandung satu klausa/satu pola S-P.

b. Kalimat majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang mengandung lebih dari satu klausa/lebih dari satu pola S-P) Kalimat majemuk, berdasarkan hubungan antar klausanya dibedakan lagi atas:
  1. Kalimat majemuk setara 
  2. Kalimat majemuk setara ialah kalimat majemuk yang klausa-klausanya sama tinggi kedudukannya. kalimat majemuk setara dibagi menjadi 5 bagian :
    1. Kalimat Majemuk Setara Penggabungan: kalimat yang menggunakan kata penghubung dan
    2. Kalimat Majemuk Setara Penguatan: kalimat yang menggunakan kata penghubung bahkan
    3. Kalimat Majemuk Setara Pemilihan: kalimat yang menggunakan kata penghubung atau
    4. Kalimat Majemuk Setara Berlawanan: kalimat yang menggunakan kata penghubung tetapi, sedangkan, melainkan
    5. Kalimat Majemuk Setara Urutan Waktu: kalimat yang menggunakan kata penghubung kemudian, lalu, lantas.
  3. Kalimat majemuk betingkat
  4. Kalimat majemuk betingkat adalah dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda yang memiliki unsur induk kalimat dan anak kalimat.
    Contoh : Ayah mencuci motor ketika matahari berada di ufuk timur.
  5. Kalimat majemuk campuran
  6. Kalimat majemuk campuran gabungan antara kalimat majemuk tunggal dan kalimat majemuk setara. Contoh: Andi bermain dengan budi.
  7. Kalimat majemuk rapatan


8. Berdasarkan Pengucapannya

Kalimat berdasarkan pengucapanya dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

a. Kalimat Langsung

Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Kalimat langsung juga dapat diartikan kaliamt yang memberitakan bagaimana ucapan dari orang lain (orang ketiga). Kalimat ini biasanya ditandai dengan tanda petik dua (“….”) dan dapat berupa kalimat tanya atau kalimat perintah.
Contoh:
Tina berkata: “Ria, jangan membuang sampah itu disembarang tempat!”

b. Kalimat Tak Langsung

Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan atau perkataan orang lain. Kalimat tak langsung tidak ditandai lagi dengan tanda petik dua dan sudah dirubah menjadi kalimat berita.
Contoh:
Kakak berkata bahwa dia senang melihat aku mendapatkan pekerjaan


RAGAM BAHASA








 RAGAM BAHASA

Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan atau berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Bahasa Indonesia memang banyak ragamnya. Hal Ini karena bahasa Indonesia sangat luas pemakaiannya dan bermacam-macam ragam penuturnya. Oleh karena itu, penutur harus mampu memilih ragam bahasa yang sesuai dengan dengan keperluannya, apapun latar belakangnya.
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Seiring dengan perkembangan zaman yang sekarang ini banyak masyarakat yang mengalami perubahan. Bahasa pun juga mengalami perubahan. Perubahan itu berupa variasi-variasi bahasa yang dipakai sesuai keperluannya. Agar banyaknya variasi tidak mengurangi fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam bahasa timbul mekanisme untuk memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan tertentu yang disebut ragam standar (Subarianto, 2000)

Ragam Bahasa Indonesia dibagi menjadi 3 jenis yaitu
1.       berdasarkan media
2.       berdasarkan cara pandang penutur
3.       berdasarkan topik pembicaraan.

1. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media

Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa terdiri
  • ·         Ragam bahasa lisan
  • ·         Ragam bahasa tulis

Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya

Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.

Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.

Ciri-ciri ragam lisan:
a. Memerlukan orang kedua/teman bicara;
b. Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
c. Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
d. Berlangsung cepat;
e. Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
f.  Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
g. Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi
Contoh ragam lisan adalah ‘Sudah saya baca buku itu.’

Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ciri-ciri ragam tulis :
1.Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;
2.Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
3.Harus memperhatikan unsur gramatikal;
4.Berlangsung lambat;
5.Selalu memakai alat bantu;
6.Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
7.Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
Contoh ragam tulis adalah ’Saya sudah membaca buku itu.’

2.Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur
Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa Indonesia terdiri dari beberapa ragam diantara nya adalah :
·         Ragam dialek
Contoh : ‘Gue udah baca itu buku.’
·         Ragam terpelajar
Contoh :  ‘Saya sudah membaca buku itu.’
·         Ragam resmi
Contoh : ‘Saya sudah membaca buku itu.’
·         Ragam tak resmi
Contoh : ‘Saya sudah baca buku itu.’

3.Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari beberapa ragam diantara nya adalah :
1.       Ragam bahasa ilmiah
2.       Ragam hukum
3.       Ragam bisnis
4.       Ragam agama
5.       Ragam sosial
6.       Ragam kedokteran
7.       Ragam sastra

Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:
Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)

Ragam bahasa baku dapat berupa: ragam bahasa baku tulis dan ragam bahasa baku lisan.
Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya keragaman bahasa, diantaranya :
• Faktor Budaya atau letak Geografis
• Faktor Ilmu pengetahuan
• Faktor Sejarah

Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut media pembicara.


Ragam bahasa terbagi dua jenis yaitu bahasa lisan dan bahasa baku tulis.
Pada ragam bahasa baku tulis kita harus menguasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan menguasai EYD, sedangkan untuk ragam bahasa lisan kita harus mampu mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan.

2) FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA KERAGAMAN BAHASA

Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya keragaman Bahasa seperti Faktor Budaya, Faktor Perbedaan Demografi dan Faktor Sejarah. Dibawah ini penjelasan dari faktor-faktor tersebut :

o    Faktor Budaya
            Setiap daerah mempunyai perbedaan bahasa atau daerah hidup yang berbeda, seperti wilayah Sumatra, Bali, Kalimantan, Jawa dan beberapa wilayah diIndonesia lainnya.
o    Faktor Sejarah
      Di setiap daerah atau wilayah di Indonesia mempunyai kebiasaan dari nenek moyang yang berbeda-beda.
o    Faktor Perbedaan Demografi
        Setiap daerah memiliki dataran yang berbeda seperti wilayah di daerah pantai, pegunungan yang biasanya cenderung mengunakan bahasa yang singkat jelas dan dengan intonasi volume suara yang besar. Berbeda dengan pada pemukiman padat penduduk yang menggunakan bahasa lisan yang panjang lebar dikarenakan lokasinya yang saling berdekatan dengan intonasi volume suara yang kecil.

Daftar Pustaka: http://id.wikipedia.org/wiki/Ragam_bahasa
gyhyh